PEKANBARU, hitsnasional.com –
Sebagian besar manusia dewasa, saya kira, menikah dengan orang yang dicintainya. Saya pun demikian.
Namun, sadarlah betapa pun indahnya momen ketika Anda dulu “jatuh cinta” pada pasangan, itu hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju kedewasaan hati.
Rasa “berbunga-bunga” pada awalnya muncul karena harapan bahwa pasangan kelak akan membawa kebahagiaan dalam rumah tangga. Harapan itu, tentu saja, berlaku timbal balik.
Hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Namun, aroma kebahagiaan yang dulu merekah perlahan memudar. Harapan yang dahulu begitu besar, kini terasa hambar. Mengapa?
Seorang psikolog pernah berkata, “Adalah beban yang berat jika kita menggantungkan kebahagiaan pada orang lain.”
Sesungguhnya, ketika dua insan memasuki mahligai rumah tangga, masing-masing membawa luka masa lalu. Obat penyembuh luka itu pun sebenarnya ada dalam diri sendiri.
Kebahagiaan sejati, sesungguhnya, bersumber dari lubuk hati terdalam. Ia tidak lahir dari validasi eksternal, bukan pula dari sikap dan perilaku pasangan. Kebahagiaan bersemayam di hati.
Jika hal ini tidak dipahami sejak dini, akan sulit menjaga keabadian cinta yang telah diikrarkan. Sebab, cinta yang lahir secara prematur sering kali hanya menjadi pelarian untuk menyembuhkan luka lama.
Salah besar jika kita mencari ketenangan batin dari pasangan. Justru, kitalah yang seharusnya membagi kedamaian itu dalam hubungan. Sebaliknya, pasangan juga memiliki tanggung jawab yang sama.
Tak heran jika orang bijak berkata, cinta yang sehat hanya tumbuh dari pasangan yang telah belajar menata hati masing-masing, lalu berani hidup berdampingan.
Psikolog sosial asal Jerman, Erich Fromm, pernah mengingatkan lebih dari setengah abad silam:
“Cinta orang dewasa adalah dua kesendirian yang saling menjaga batas tanpa kehilangan diri.”
Kuncinya adalah kesadaran bahwa kebahagiaan harus dibangun bersama atas dasar tanggung jawab, kejujuran, dan loyalitas.
Kebahagiaan rumah tangga ibarat pelumas bagi mesin kehidupan; ia harus diisi secara rutin agar perjalanan tetap lancar.
Namun, ketika situasi menjadi sulit, yang dibutuhkan bukan sekadar senyum yang dipaksakan, melainkan kemampuan untuk bertahan agar kapal rumah tangga tidak karam.
Ketahanan seseorang ditentukan oleh kedalaman cintanya pada rumah tangga yang dibangun. Pengalaman hidup, perjuangan, dan kepedihan justru menjadi guru yang menempanya menjadi pribadi tangguh.
Sayangnya, di era modern yang penuh distraksi, banyak orang lebih memprioritaskan “rasa” daripada “makna”. Padahal, kedalaman cinta hanya dapat diselami melalui pemaknaan yang tulus dan mendalam.
Kita pun menyaksikan lahirnya generasi yang rapuh. Kerapuhan mental ini sering kali tersamarkan oleh pencitraan dan validasi semu dalam rumah tangga.
Sepintas tampak kuat dan memesona, tetapi goyah ketika badai datang.
Para pengamat pernikahan menyebut, sebagian besar perceraian disebabkan oleh kesulitan ekonomi. Data menunjukkan, sepanjang tahun 2024, tercatat lebih dari 400 ribu kasus perceraian di Indonesia.
Namun, benarkah penyebab utamanya adalah ekonomi?
Mungkin iya, di permukaan. Tetapi, seperti air sungai yang tampak tenang di atas, di dasarnya terjadi pusaran yang saling berkelindan.
Akar persoalan sering kali berawal dari sulitnya menemukan sosok yang tidak hanya layak dicintai, tetapi juga layak dijadikan teman hidup karena keselarasan nilai, karakter, dan arah hidup.
Pertanyaannya, sudahkah kita sendiri menjadi pribadi yang layak untuk mencintai?
Kegagalan rumah tangga bukan semata karena badai ekonomi, melainkan karena dua hati gagal saling memahami dan menempuh tujuan yang sama.
Seperti penggalan puisi sastrawan Riau, Edi Ruslam Pe Amanriza, yang pernah menulis:
“Sesungguhnya, kita berangkat dari pedih yang sama…”
Oleh : Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT
Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC)















