Example floating
Example floating
EkonomiJakarta

Bitcoin Jatuh di Bawah US$100.000 Meski Shutdown AS Berakhir, Ini Analisisnya

Admin
72
×

Bitcoin Jatuh di Bawah US$100.000 Meski Shutdown AS Berakhir, Ini Analisisnya

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, hitsnasional.com – 14 November 2025 — Pasar aset kripto kembali bergerak melemah setelah harga Bitcoin (BTC) turun ke bawah level support di kisaran US$96.000, meskipun Pemerintah Amerika Serikat resmi kembali beroperasi setelah Presiden Donald Trump menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11) waktu setempat.

Penandatanganan ini mengakhiri shutdown terpanjang dalam sejarah AS dan memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026. Dengan beroperasinya pemerintah secara penuh, sejumlah lembaga yang memegang peran penting dalam ekosistem kripto termasuk Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dapat kembali melanjutkan agenda regulasinya.

Namun, kondisi pasar usai berakhirnya shutdown kali ini terbilang berbeda. Meski pemerintah AS telah kembali beroperasi, reaksi pasar kripto relatif datar. Harga Bitcoin masih berada di bawah tekanan. Di sisi lain, shutdown berkepanjangan tersebut menimbulkan gangguan pada proses pengumpulan data ekonomi penting, termasuk Consumer Price Index (CPI) dan laporan pekerjaan (nonfarm payrolls) untuk Oktober 2025, yang seharusnya dirilis November ini.

Terkait sentimen inflasi, data terakhir menunjukkan tekanan harga yang masih membayangi. Tingkat inflasi tahunan AS naik menjadi 3% pada September 2025 tertinggi sejak Januari dari 2,9% pada Agustus, meskipun sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 3,1%. Data CPI tersebut masih menjadi acuan utama bagi The Federal Reserve (The Fed), mengingat rilis data terbaru tertunda akibat shutdown.

Dengan kembalinya regulator utama seperti SEC dan CFTC bekerja penuh, perhatian pasar kini mulai beralih dari dinamika politik menuju kejelasan regulasi kripto yang lebih terarah, seperti proses persetujuan ETF kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini dinilai dapat menjadi pondasi penting bagi perkembangan industri kripto dalam jangka panjang, meskipun tekanan inflasi tetap perlu dicermati.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai fluktuasi harga saat ini merupakan fase konsolidasi pasar menuju pematangan. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor yang menentukan arah pergerakan Bitcoin.

“Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas langsung terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selama arah kebijakan belum jelas, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu kepastian sebelum kembali masuk,” ujar Antony.

Ia menyampaikan bahwa sinyal pemangkasan suku bunga pada Desember dapat menjadi titik balik penting, karena perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.

Antony juga menegaskan bahwa tekanan jangka pendek ini merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital di tengah ketidakpastian global.

“Penurunan harga Bitcoin di bawah US$100.000 dipengaruhi oleh beberapa faktor makro eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali normal, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelasnya.

Menurut Antony, volatilitas pasar saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
“Investor dapat tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko. Koreksi semacam ini merupakan mekanisme pasar. Setiap investor perlu meninjau kembali strategi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” tambahnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *